YAKIN, DENGAN TAUHID ANDA?

WhatsApp Image 2021-02-20 at 10.52.24

YAKIN, DENGAN TAUHID ANDA?

YAKIN, DENGAN TAUHID ANDA?

Banyak orang merasa bangga dengan keislamannya, merasa mulia dengan statusnya, terasa sakit hatinya tatkala ada yang menghina agamanya. Yah, semangat dan ghirah (kecemburuan) yang positif, demikian semestinya jiwa seorang yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala. Namun, apakah cukup sebatas itu saja seseorang dikatakan sebagai seorang muslim? Di sisi yang lain, ia sibuk dengan urusan dunianya, fokus dengan urusan pekerjaaannya, lalai dengan tugas utamanya sebagai hamba Allah Rabb Sang Pencipta. Lebih ironis lagi, kitab suci Al Qur’an tidaklah ia sentuh kecuali di bulan Ramadhan saja, tidak pernah duduk bersimpuh di majelis ilmu untuk mendalami Kalamullah dan sabda Rasul-Nya. Duhai kiranya, semangat dan ghirahnya diiringi dengan semangatnya dalam menuntut ilmu agama, warisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dengan ilmu yang sahih, akan menjaga akidah, meluruskan tauhid, membenarkan ibadah, memperbaiki akhlak dan muamalah, sehingga menambah indah iman yang telah ada.

 

Lalu, apakah cukup seorang meyakini Allah sebagai Sang Pencipta, Pengatur Alam Semesta dan Pemilik Jagat Raya, Yang Menghidupkan dan Mematikan dikatakan sebagai seorang muslim? Ataukah ada hal-hal lain yang harus dilaksanakan agar terlihat perbedaan antara muslim dan selainnya?

Mari kita simak sejenak uraian ringkas berikut ini, semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan ilmu yang bermanfaat kepada kita dan taufik untuk bisa mengamalkannya. Amiin

Tauhid

Tidaklah sempurna keimanan seorang hamba sampai ia mentauhidkan Allah subhanahu wata’ala.

Tauhid, definisi secara umum adalah meyakini ke-Esaan Allah pada rububiyyah-Nya, mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk-Nya, dan menetapkan seluruh nama dan sifat-Nya bagi Allah subhanahu wata’ala. (Akidah at-Tauhid hal.20)

Kesimpulannya, tauhid terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Tauhid Rububiyyah
  2. Tauhid Uluhiyyah
  3. Tauhid Asma wa ash-Shifat

Seorang muslim, tidaklah sempurna tauhidnya sampai ia menetapkan tiga jenis tauhid tersebut. Bahkan, dalam konteks iman kepada Allah subhanahu wata’ala. Ia harus menetapkan empat hal, yaitu:

  1. Mengimani keberadaan (wujud) Allah
  2. Mengimani rububiyyah-Nya
  3. Mengimani uluhiyyah-Nya
  4. Mengimani nama dan sifat-Nya

Dan masing-masing jenis tauhid tersebut memiliki makna yang harus diketahui dan difahami oleh seorang muslim, agar ia mampu membedakan antara jenis-jenis tauhid tersebut.

Tauhid Rububiyyah

Yaitu meng-Esakan Allah pada perbuatan-perbuatan-Nya. Meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta, pengatur alam semesta dan yang memiliki seluruh jagat raya.

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah yang menciptakan segala sesuatu’ (QS. Az-Zumar 62)

Allah subhanahu wata’ala adalah Yang Maha Memberikan Rizki kepada seluruh ciptaan-Nya, baik hewan, manusia dan yang lainnya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.‘ (QS. Hud: 6)

Allah subhanahu wata’ala yang memiliki seluruh kerajaan langit dan bumi, mengatur seluruh peristiwa dan kejadian di alam ini, memuliakan dan merendahkan, berkuasa terhadap segala sesuatu, mengatur pergantian siang dan malam, menghidupkan dan mematikan.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Rabb pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”’

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan. (QS. Al-Imran: 26-27)

Bahkan Allah subhanahu wata’ala meniadakan adanya sekutu pada kerajaannya, pembantu dalam mengatur alam semesta.

هَذَا خَلْقُ اللهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sesembahanmu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.‘ (QS.  Luqman: 11)

Kaum musyrikin menyekutukan Allah Azza wa Jalla dalam hal ibadah sekalipun mereka menetapkan tauhid rububiyyah Allah Azza wa Jalla

Allah subhanahu wata’ala telah menetapkan pada seluruh makhluk adanya pengakuan terhadap rububiyyah Allah Azza wa Jalla; Sekalipun kaum musyrikin yang mereka menyekutukan Allah Azza wa Jalla dalam ibadah, mereka menetapkan rububiyyah Allah ini.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Katakanlah, “Siapakah Rabb yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki ‘Arsy yang agung ?”

سَيَقُولُونَ للهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُوْنَ

Mereka akan menjawab, “(Milik) Allah.” Katakanlah, “Maka mengapa kamu tidak bertakwa?”

قُلْ مَنْۢ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ يُجِيْرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْن

Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab-Nya), jika kamu mengetahui ?”

سَيَقُوْلُوْنَ للهِ ۗ قُلْ فَاَنّٰى تُسْحَرُوْنَ

Mereka akan menjawab, “(Milik) Allah.” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka bagaimana kamu sampai tertipu?” (QS. Al-Mukminun: 86-89)

Tauhid (rubbubiyah) tidaklah diingkari oleh manusia kecuali karena kesombongan

Tauhid (rububiyyah) ini, tidak ada yang mengingkarinya dari kalangan manusia. Bahkan hati-hati manusia secara fitrah menetapkan hal itu. Dan telah masyhur, yang menampakkan pengingkaran terhadap tauhid ini adalah Fir’aun, dalam kondisi ia meyakini dalam hatinya (kebenaran tauhid ini). Sebagaimana Musa alaihissalam tatkala mengatakan kepada Fir’aun.

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلاءِ إِلا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ بَصَائِرَ ۚ وَإِنِّي لأظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

Dia (Musa) menjawab, ”Sungguh, engkau telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Rabb (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Fir‘aun.”‘ (QS. Al-Isra: 102)

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.‘ (QS. Al-Naml: 14)

Demikian pula para penentang Rabb  di masa sekarang dari kalangan orang-orang Atheis (Komunis). Sesungguhnya mereka menentang adanya Rabb karena kesombongan. Meskipun secara batin, dalam hati mereka, pasti mengetahui dan mengakui bahwa tidaklah keberadaan alam ini terjadi begitu saja, melainkan pasti ada yang mewujudkannya, sebagaimana tidaklah makhluk itu ada melainkan pasti ada yang menciptakannya.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) ?

أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بَل لا يُوقِنُونَ

Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).‘ (QS. Ath-Thur: 35-36)

Maka perhatikanlah alam ini seluruhnya, langit dan bumi beserta seluruh bagian-bagiannya!

Engkau akan mendapatinya sebagai saksi dan bukti adanya Rabb Sang Pencipta. Pengingkaran dan penentangan adanya Rabb yang menciptakan seluruh makhluk, kedudukannya sama seperti seseorang yang mengingkari dan menentang adanya alam ini, tidak ada bedanya.

Dan tidaklah orang-orang Atheis di zaman sekarang berbangga dengan pengingkaran terhadap adanya Rabb, melainkan karena kesombongan semata dan penentangan terhadap apa yang telah diakui oleh akal yang sehat dan pemikiran yang benar.

Sehingga barang siapa yang demikian kondisinya, maka sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan akalnya dan sekaligus mengajak manusia untuk mengolok-oloknya (karena kurang akalnya).

Seorang penyair mengatakan:

Bagaimana mungkin Allah dimaksiati

Dan diingkari oleh orang-orang yang mengingkari

(Sementara) ada tanda kekuasaan-Nya pada segala sesuatu

Yang menunjukkan bahwa Allah itu Satu

Na’udzubillah minal khidzlan wa dhalal,

Semoga Allah subhanahu wata’ala melindungi kita dari kesesatan dan kekufuran.

Wallahua’lam bish-shawab

mahadjur

mahadjur

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *